وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ جَآءُوكَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ ٱللَّهَ وَٱسْتَغْفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُوا۟ ٱللَّهَ تَوَّابًۭا رَّحِيمًۭا
Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Tafsir Ibn Kathir
The Necessity of Obeying the Messenger ﷺ
Allah said,
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إلاَّ لِيُطَاعَ
(We sent no Messenger, but to be obeyed) meaning, obeying the Prophet was ordained for those to whom Allah sends the Prophet. Allah's statement,
بِإِذُنِ اللَّهِ
(by Allah's leave) means, "None shall obey, except by My leave," according to Mujahid. This Ayah indicates that the Prophets are only obeyed by whomever Allah directs to obedience. In another Ayah, Allah said,
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ
(And Allah did indeed fulfill His promise to you when you were killing them (your enemy) with His permission) meaning, by His command, decree, will and because He granted you superiority over them. Allah's statement,
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ
(If they (hypocrites), when they had been unjust to themselves,) directs the sinners and evildoers, when they commit errors and mistakes, to come to the Messenger ﷺ, so that they ask Allah for forgiveness in his presence and ask him to supplicate to Allah to forgive them. If they do this, Allah will forgive them and award them His mercy and pardon. This is why Allah said,
لَوَجَدُواْ اللَّهَ تَوَّاباً رَّحِيماً
(they would have found Allah All-Forgiving (One Who forgives and accepts repentance), Most Merciful).
One Does not Become a Believer Unless He Refers to the Messenger ﷺ for Judgment and Submits to his Decisions
Allah said,
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
(But no, by your Lord, they can have no faith, until they make you judge in all disputes between them,) Allah swears by His Glorious, Most Honorable Self, that no one shall attain faith until he refers to the Messenger ﷺ for judgment in all matters. Thereafter, whatever the Messenger ﷺ commands, is the plain truth that must be submitted to inwardly and outwardly. Allah said,
ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِى أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً
(and find in themselves no resistance against your decisions, and accept (them) with full submission.) meaning: they adhere to your judgment, and thus do not feel any hesitation over your decision, and they submit to it inwardly and outwardly. They submit to the Prophet's decision with total submission without any rejection, denial or dispute. Al-Bukhari recorded that `Urwah said, "Az-Zubayr quarreled with a man about a stream which both of them used for irrigation. Allah's Messenger ﷺ said to Az-Zubayr,
«اسْقِ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ أَرْسِلِ الْمَاءَ إِلى جَارِك»
(O Zubayr! Irrigate (your garden) first, and then let the water flow to your neighbor.) The Ansari became angry and said, `O Allah's Messenger! Is it because he is your cousin' On that, the face of Allah's Messenger changed color (because of anger) and said,
«اسْقِ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ احْبِسِ الْمَاءَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى الْجَدْرِ،ثُمَّ أَرْسِلِ الْمَاءَ إِلى جَارِك»
(Irrigate (your garden), O Zubayr, and then withhold the water until it reaches the walls (surrounding the palms). Then, release the water to your neighbor.) So, Allah's Messenger ﷺ gave Az-Zubayr his full right when the Ansari made him angry. Before that, Allah's Messenger ﷺ had given a generous judgment, beneficial for Az-Zubayr and the Ansari. Az-Zubayr said, `I think the following verse was revealed concerning that case,
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
(But no, by your Lord, they can have no faith, until they make you (O Muhammad ) judge in all disputes between them.)"' Another Reason In his Tafsir, Al-Hafiz Abu Ishaq Ibrahim bin `Abdur-Rahman bin Ibrahim bin Duhaym recorded that Damrah narrated that two men took their dispute to the Prophet , and he gave a judgment to the benefit of whoever among them had the right. The person who lost the dispute said, "I do not agree." The other person asked him, "What do you want then" He said, "Let us go to Abu Bakr As-Siddiq." They went to Abu Bakr and the person who won the dispute said, "We went to the Prophet with our dispute and he issued a decision in my favor." Abu Bakr said, "Then the decision is that which the Messenger of Allah ﷺ issued." The person who lost the dispute still rejected the decision and said, "Let us go to `Umar bin Al-Khattab." When they went to `Umar, the person who won the dispute said, "We took our dispute to the Prophet and he decided in my favor, but this man refused to submit to the decision." `Umar bin Al-Khattab asked the second man and he concurred. `Umar went to his house and emerged from it holding aloft his sword. He struck the head of the man who rejected the Prophet's decision with the sword and killed him. Consequently, Allah revealed,
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ
(But no, by your Lord, they can have no faith).
Hadits Terkait
Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Jarir] dari [Al A'masy] dari [Sa'ad bin 'Ubaidah] dari [Al Mustaurid bin Al Ahnaf] dari [Shilah bin Zufar] dari [Hudzaifah] dia berkata; "Pada suatu malam aku mengerjakan shalat bersama Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, beliau mulai dengan membaca surat Al Baqarah. Beliau telah membaca seratus ayat dan belum ruku lalu tetap membacanya." Hudzaifah berkata; "Beliau menyelesaikannya pada dua rakaat, lantas berlalu." Hudzaifah berkata lagi; "Beliau menyelesaikannya kemudian ruku' dan terus berlalu hinggga beliau membaca surat An-Nisaa', kemudian membaca surat Ali 'Imraan, lalu ruku' yang lamanya seperti berdiri. Saat ruku' beliau mengucapkan, 'Subhana rabbiyal 'adzimi, subhana rabbiyal 'adzimi, subhana rabbiyal 'adzimi (Maha suci Tuhan-ku yang Maha Agung) '. Lalu beliau mengangkat kepala sambil mengucapkan, 'Sami'allahu liman hamidah rabbana lakal hamdu (Allah Maha mendengar orang yang memuji-Nya, segala puji untuk-Mu) '. Beliau memperpanjang berdirinya kemudian sujud, dan beliau memperlama sujudnya sambil mengucapkan, 'Subhana rabbiyal a'laa, subhana rabbiyal a'laa, subhana rabbiyal a'laa (Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi) '. Beliau Shallallahu'alaihiwasallam tidak melalui ayat ancaman atau pengagungan Allah Azza wa Jalla kecuali beliau Shallallahu'alaihiwasallam berdzikir kepada-Nya
Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] dia berkata; telah memberitakan kepada kami ['Abdullah bin Idris] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Ibnu Juraij] dari [Ibnu Abu 'Ammar] dari ['Abdullah bin Babaih] dari [Ya'la bin Umayyah] dia berkata;? ku pernah bertanya kepada ['Umar bin Al Khaththab] tentang ayat, 'Tidaklah apa-apa bagi kalian untuk mengqashar/meringkas shalat jika kalian takut (khawatir) diserang orang-orang kafir'. (Qs. An-Nisaa' (4): 101), bukankah sekarang manusia sudah merasa aman?!" Lalu Umar menjawab, "Aku juga heran seperti kamu, dan aku juga pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti itu? Beliau menjawab: 'Itu sedekah yang Allah sedekahkan kepada kalian, maka terimalah sedekah-Nya
Telah mengabarkan kepada kami [Ibrahim bin Ya'qub] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu An Nu'man] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah] dari ['Ashim Al Ahwal] dari [Abu Mijlaz] bahwasanya [Abu Musa] pernah berada di antara Makkah dan Madinah, dia shalat Isya' dua rakaat, kemudian berdiri, lalu shalat satu rakaat sebagai witir dengan membaca seratus ayat dari surah An-Nisaa'. Kemudian dia berkata: "Aku tidak menyia-nyiakan untuk menapakkan telapak kakiku dimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menapakkan telapak kakinya, dan aku membaca sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membacanya
Telah menceritakan kepada saya [Ishaq] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] telah mengabarkan kepada kami [Hisyam] dan diriwayatkan pula telah menceritakan kepada saya [Muhammad bin Salam] berkata; Aku mendengar ['Utsman bin Farqad] berkata; Aku mendengar [Hisyam bin 'Urwah] menceritakan dari [Bapaknya] bahwa dia mendengar ['Aisyah radliallahu 'anha] berkata, (tentang ayat QS. An-Nisaa' ayat 6 yang artinya (barangsiapa diantara pemelihara itu yang mampu maka hendaknya ia menehan diri dari memakan harta anak yatim itu, dan barangsiapa yang miskin maka ia boleh makan harta itu menurut yang patut), ayat ini turun pada wali anak yatim yang memelihara dan menjaga hartanya, dan jika ia seorang miskin maka ia boleh memakannya dengan cara ma'ruf (yang patut)
Telah menceritakan kepada kami [Muhamamad] telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah] telah mengabarkan kepada kami [Hisyam bin 'Urwah] dari [bapaknya] dari ['Aisyah radliallahu 'anha] tentang ayat ini QS An-Nisaa: 128): ("Apabila seorang isteri takut suaminya akan berbuat nusyuz (tidak mau menggaulinya) atau berlaku kasar terhadapnya"), dia ('Aisyah radliallahu 'anha) berkata: "Yaitu jika seorang suami yang memiliki isteri namun dia tidak lagi mencintai dan menggaulinya serta berkehendak untuk menceraikanya lalu isterinya berkata, "aku persilakan kamu meninggalkan aku namun jangan ceraikan aku", maka turunlah ayat ini