إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ثُمَّ كَفَرُوا۟ ثُمَّ ءَامَنُوا۟ ثُمَّ كَفَرُوا۟ ثُمَّ ٱزْدَادُوا۟ كُفْرًۭا لَّمْ يَكُنِ ٱللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًۢا
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.
Tafsir Ibn Kathir
Characteristics of the Hypocrites and Their Destination
Allah states that whoever embraces the faith, reverts from it, embraces it again, reverts from it and remains on disbelief and increases in it until death, then he will never have a chance to gain accepted repentance after death. Nor will Allah forgive him, or deliver him from his plight to the path of correct guidance. This is why Allah said,
(Allah will not forgive them, nor guide them on the (right) way). Ibn Abi Hatim recorded that his father said that Ahmad bin `Abdah related that Hafs bin Jami' said that Samak said that `Ikrimah reported that Ibn `Abbas commented;
(and go on increasing in disbelief), "They remain on disbelief until they die." Mujahid said similarly. Allah then said,
(Give to the hypocrites the tidings that there is for them a painful torment.) Hence, the hypocrites have this characteristic, for they believe, then disbelieve, and this is why their hearts become sealed. Allah describes the hypocrites as taking the disbelievers as friends instead of the believers, meaning they are the disbelievers' supporters in reality, for they give them their loyalty and friendship in secret. They also say to disbelievers when they are alone with them, "We are with you, we only mock the believers by pretending to follow their religion." Allah said, while chastising them for being friends with the disbelievers,
(do they seek honor, with them) Allah then states that honor, power and glory is for Him Alone without partners, and for those whom Allah grants such qualities to. Allah said,
(Whosoever desires honor, then to Allah belong all honor), and,
(But honor belongs to Allah, and to His Messenger, and to the believers, but the hypocrites know not). The statement that honor is Allah's Alone, is meant to encourage the servants to adhere to their servitude to Allah and to be among His faithful servants who will gain victory in this life and when the Witnesses stand up to testify on the Day of Resurection. Allah's statement,
(And it has already been revealed to you in the Book that when you hear the verses of Allah being denied and mocked at, then sit not with them, until they engage in talk other than that; certainly in that case you would be like them.) The Ayah means, if you still commit this prohibition after being aware of its prohibition, sitting with them where Allah's Ayat are rejected, mocked at and denied, and you sanction such conduct, then you have participated with them in what they are doing. So Allah said,
((But if you stayed with them) certainly in that case you would be like them.) concerning the burden they will earn. What has already been revealed in the Book -- as the Ayah says -- is the Ayah in Surat Al-An`am 6, which was revealed in Makkah,
(And when you see those who engage in false conversation about Our verses (of the Qur'an) by mocking at them, stay away from them). Muqatil bin Hayyan said that this Ayah 4:140 abrogated the Ayah in Surat Al-An`am, referring to the part that says here,
((But if you stayed with them) certainly in that case you would be like them), and Allah's statement in Al-An`am,
(Those who fear Allah, keep their duty to Him and avoid evil, are not responsible for them (the disbelievers) in any case, but (their duty) is to remind them, that they may have Taqwa). Allah's statement,
(Surely, Allah will collect the hypocrites and disbelievers all together in Hell.) means, just as the hypocrites participate in the Kufr of disbelievers, Allah will join them all together to reside in the Fire for eternity, dwelling in torment, punishment, enchained, restrained and in drinking boiling water.
Hadits Terkait
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Adam] dari [Hafsh bin ghiyats] dari [Al A'la bin Al Musayyab] dari [Amr bin Murrah] dari [Thalhah bin Yazid] dari [Hudzaifah] dan [Al A'masy] dari [Sa'd bin Ubaidah] dari [Al Mustawrid Al Ahnaf] dari [Shilah bin Zufar] dari [Hudzaifah] bahwa Nabi Shallallallahu'alaihi wasallam pernah membaca surat Al Baqarah, Ali 'Imraan, dan An-Nisaa' dalam satu rakaat. Beliau Shallallallahu'alaihi wasallam tidak melewati (membaca) ayat yang berkenaan dengan rahmat kecuali beliau berdoa, dan tidak melewati (membaca) ayat yang berkenaan dengan adzab kecuali beliau memohon perlindungan kepada-Nya
Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Jarir] dari [Al A'masy] dari [Sa'ad bin 'Ubaidah] dari [Al Mustaurid bin Al Ahnaf] dari [Shilah bin Zufar] dari [Hudzaifah] dia berkata; "Pada suatu malam aku mengerjakan shalat bersama Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, beliau mulai dengan membaca surat Al Baqarah. Beliau telah membaca seratus ayat dan belum ruku lalu tetap membacanya." Hudzaifah berkata; "Beliau menyelesaikannya pada dua rakaat, lantas berlalu." Hudzaifah berkata lagi; "Beliau menyelesaikannya kemudian ruku' dan terus berlalu hinggga beliau membaca surat An-Nisaa', kemudian membaca surat Ali 'Imraan, lalu ruku' yang lamanya seperti berdiri. Saat ruku' beliau mengucapkan, 'Subhana rabbiyal 'adzimi, subhana rabbiyal 'adzimi, subhana rabbiyal 'adzimi (Maha suci Tuhan-ku yang Maha Agung) '. Lalu beliau mengangkat kepala sambil mengucapkan, 'Sami'allahu liman hamidah rabbana lakal hamdu (Allah Maha mendengar orang yang memuji-Nya, segala puji untuk-Mu) '. Beliau memperpanjang berdirinya kemudian sujud, dan beliau memperlama sujudnya sambil mengucapkan, 'Subhana rabbiyal a'laa, subhana rabbiyal a'laa, subhana rabbiyal a'laa (Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi) '. Beliau Shallallahu'alaihiwasallam tidak melalui ayat ancaman atau pengagungan Allah Azza wa Jalla kecuali beliau Shallallahu'alaihiwasallam berdzikir kepada-Nya
Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] dia berkata; telah memberitakan kepada kami ['Abdullah bin Idris] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Ibnu Juraij] dari [Ibnu Abu 'Ammar] dari ['Abdullah bin Babaih] dari [Ya'la bin Umayyah] dia berkata;? ku pernah bertanya kepada ['Umar bin Al Khaththab] tentang ayat, 'Tidaklah apa-apa bagi kalian untuk mengqashar/meringkas shalat jika kalian takut (khawatir) diserang orang-orang kafir'. (Qs. An-Nisaa' (4): 101), bukankah sekarang manusia sudah merasa aman?!" Lalu Umar menjawab, "Aku juga heran seperti kamu, dan aku juga pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti itu? Beliau menjawab: 'Itu sedekah yang Allah sedekahkan kepada kalian, maka terimalah sedekah-Nya
Telah mengabarkan kepada kami [Ibrahim bin Ya'qub] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu An Nu'man] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah] dari ['Ashim Al Ahwal] dari [Abu Mijlaz] bahwasanya [Abu Musa] pernah berada di antara Makkah dan Madinah, dia shalat Isya' dua rakaat, kemudian berdiri, lalu shalat satu rakaat sebagai witir dengan membaca seratus ayat dari surah An-Nisaa'. Kemudian dia berkata: "Aku tidak menyia-nyiakan untuk menapakkan telapak kakiku dimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menapakkan telapak kakinya, dan aku membaca sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membacanya
Telah menceritakan kepada saya [Ishaq] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] telah mengabarkan kepada kami [Hisyam] dan diriwayatkan pula telah menceritakan kepada saya [Muhammad bin Salam] berkata; Aku mendengar ['Utsman bin Farqad] berkata; Aku mendengar [Hisyam bin 'Urwah] menceritakan dari [Bapaknya] bahwa dia mendengar ['Aisyah radliallahu 'anha] berkata, (tentang ayat QS. An-Nisaa' ayat 6 yang artinya (barangsiapa diantara pemelihara itu yang mampu maka hendaknya ia menehan diri dari memakan harta anak yatim itu, dan barangsiapa yang miskin maka ia boleh makan harta itu menurut yang patut), ayat ini turun pada wali anak yatim yang memelihara dan menjaga hartanya, dan jika ia seorang miskin maka ia boleh memakannya dengan cara ma'ruf (yang patut)