An-Nisaa

Ayat 47

سُورَةُ النِّسَاءِ

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ ءَامِنُوا۟ بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًۭا لِّمَا مَعَكُم مِّن قَبْلِ أَن نَّطْمِسَ وُجُوهًۭا فَنَرُدَّهَا عَلَىٰٓ أَدْبَارِهَآ أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّآ أَصْحَٰبَ ٱلسَّبْتِ ۚ وَكَانَ أَمْرُ ٱللَّهِ مَفْعُولًا

Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuki mereka sebagaimana Kami telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.

Surah An-Nisaa (The Women)Ayat 47 dari 176

Tafsir Ibn Kathir

Calling the People of the Book to Embrace the Faith, Warning them Against Doing Otherwise

Allah commands the People of the Scriptures to believe in what He has sent down to His servant and Messenger, Muhammad ﷺ , the Glorious Book that conforms to the good news that they already have about Muhammad ﷺ. He also warns them,

مِّن قَبْلِ أَن نَّطْمِسَ وُجُوهاً فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَـرِهَآ

(before We efface faces and turn them backwards) Al-`Awfi said that Ibn `Abbas said that `effacing' here refers to blindness,

فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَـرِهَآ

(and turn them backwards) meaning, We put their faces on their backs, and make them walk backwards, since their eyes will be in their backs. Similar was said by Qatadah and `Atiyah Al-`Awfi. This makes the punishment even more severe, and it is a parable that Allah set for ignoring the truth, preferring the wrong way and turning away from the plain path for the paths of misguidance. Therefore, such people walk backwards. Similarly, some said that Allah's statement,

إِنَّا جَعَلْنَا فِى أَعْنـقِهِمْ أَغْلَـلاً فَهِىَ إِلَى الاٌّذْقَـنِ فَهُم مُّقْمَحُونَ وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدّاً

(Verily, We have put on their necks iron collars reaching to the chins, so that their heads are raised up. And We have put a barrier before them) that is a parable that Allah gave for their deviation and hindrance from guidance.

Ka`b Al-Ahbar Embraces Islam Upon Hearing this Ayah [4:47]

It was reported that Ka`b Al-Ahbar became Muslim when he heard this Ayah 4:47. Ibn Jarir recorded that `Isa bin Al-Mughirah said: We were with Ibrahim when we talked about the time when Ka`b became Muslim. He said, `Ka`b became Muslim during the reign of `Umar, for he passed by Al-Madinah intending to visit Jerusalem, and `Umar said to him, "Embrace Islam, O Ka`b.' Ka`b said, `Do you not read in your Book,

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُواْ التَّوْرَاةَ

(The likeness of those who were entrusted with the Tawrah...) 62:5 until,

أَسْفَاراً

(Books) I am among those who were entrusted with the Tawrah.' `Umar left him alone and Ka`b went on to Hims (in Syria) and heard one of its inhabitants recite this Ayah while feeling sad,

يَـأَيُّهَآ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَـبَ ءَامِنُواْ بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ مِّن قَبْلِ أَن نَّطْمِسَ وُجُوهاً فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَـرِهَآ

(O you who have been given the Scripture (Jews and Christians)! Believe in what We have revealed confirming what is with you, before We efface faces and turn them backwards). Ka`b said, `I believe, O Lord! I embraced Islam, O Lord!' for He feared that this might be struck by this threat. He then went back to his family in Yemen and returned with them all as Muslims." Allah's statement,

أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّآ أَصْحَـبَ السَّبْتِ

(or curse them as We cursed the people of the Sabbath.) refers to those who breached the sanctity of the Sabbath, using deceit, for the purpose of doing more work. Allah changed these people into apes and swine, as we will come to know in the explanation of Surat Al-A`raf (7). Allah's statement,

وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولاً

(And the commandment of Allah is always executed.) means, when He commands something, then no one can dispute or resist His command.

Allah Does not Forgive Shirk, Except After Repenting From it

Allah said that He,

لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ

(forgives not that partners should be set up with Him (in worship),) meaning, He does not forgive a servant if he meets Him while he is associating partners with Him,

وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ

(but He forgives except that) of sins,

لِمَن يَشَآءُ

(to whom He wills) of His servants. Imam Ahmad recorded that Abu Dharr said that the Messenger of Allah ﷺ said,

«إِنَّ اللهَ يَقُولُ: يَا عَبْدِي مَا عَبَدْتَنِي وَرَجَوْتَنِي، فَإِنِّي غَافِرٌ لَكَ عَلى مَا كَانَ فِيكَ، يَا عَبْدِي إِنَّكَ إِنْ لَقِيتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً مَا لَمْ تُشْرِكْ بِي، لَقِيتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَة»

(Allah said, "O My servant! As long as you worship and beg Me, I will forgive you, no matter your shortcomings. O My servant! If you meet Me with the earth's fill of sin, yet you do not associate any partners with Me, I will meet you with its fill of forgiveness.") Only Ahmad recorded this Hadith with this chain of narration. Imam Ahmad recorded that Abu Dharr said, "I came to the Messenger of Allah ﷺ and he said,

«مَا مِنْ عَبْدٍ قَالَ: لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ ثُمَّ مَاتَ عَلَى ذَلِكَ، إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّة»

قلت:وإن زنى وإن سرق؟ قال:

«وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَق»

. قلت: وإن زنى وإن سرق؟ قال:

«وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ ثَلَاثًا»

، ثم قال في الرابعة:

«عَلَى رَغْمِ أَنْفِ أَبِي ذَر»

("No servant proclaims,`There is no deity worthy of worship except Allah,' and dies on that belief, but will enter Paradise." I said, "Even if he committed adultery and theft" He said, "Even if he committed adultery and theft." I asked again, "Even if he committed adultery and theft" He said, "Even if he committed adultery and theft." The fourth time, he said, "Even if Abu Dharr's nose was put in the dust.") Abu Dharr departed while pulling his Izar and saying, "Even if Abu Dharr's nose was put in the dust." Ever since that happened, Abu Dharr used to narrate the Hadith and then comment, "Even if Abu Dharr's nose was put in dust." The Two Sahihs recorded this Hadith Al-Bazzar recorded that Ibn `Umar said, "We used to refrain from begging (Allah) for forgiveness for those who commit major sins until we heard our Prophet reciting,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ

(Verily, Allah forgives not that partners should be set up with Him (in worship), but He forgives except that (anything else) to whom He wills;), and his saying,

«أَخَّرْتُ شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَة»

(I have reserved my intercession on the Day of Resurrection for those among my Ummah who commit major sins.)" Allah's statement,

وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

(and whoever sets up partners with Allah in worship, he has indeed invented a tremendous sin.) is similar to His statement,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

(Verily, joining others in worship with Allah is a great Zulm (wrong) indeed.) In the Two Sahihs, it is recorded that Ibn Mas`ud said, "I said, `O Messenger of Allah! Which is the greatest sin' He said,

«أَنْ تَجْعَلَ للهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَك»

(To make a rival with Allah, while He Alone created you.)"

Hadits Terkait

muslim:6569Sahih Muslim

Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] dan [Abu Bakr bin Abu Syaibah] keduanya dari [Ibnu 'Uyainah] dan lafazh ini milik Qutaibah; Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Ibnu Muhaishin] seorang syaikh dari bangsa Quraisy, dia mendengar [Muhammad bin Qais bin Makhramah] bercerita dari [Abu Hurairah] dia berkata; "Tatkala telah turun ayat yang mengatakan: "Ketika turun ayat Al Qur'an yang berbunyi Barang siapa berbuat kejelekan, niscaya ia akan dibalas dengan kejelekan (siksa) (Qs. An-Nisaa'(4): 123), maka kaum muslimin pun merasa prihatin. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Janganlah kalian berlebihan, tempuhlah kejujuran dan perbaikilah dirimu. Sesungguhnya setiap musibah yang menimpa seorang muslim itu adalah sebagai penghapus dosa, termasuk pula jika ia terantuk batu ataupun tertusuk duri.' Muslim berkata; 'Dia adalah Umar bin Abdurrahman bin Muhshin dari penduduk Makkah

bukhari:2763Sahih al-Bukhari

Telah bercerita kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhriy] berkata ['Urwah bin Az Zubair] bercerita bahwa dia pernah bertanya kepada ['Aisyah radliallahu 'anha] tentaang firman Allah QS an-Nisaa' ayat 3 yang artinya: (Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi …). 'Aisyah menjawab: "Yang dimaksud ayat itu adalah seorang anak perempuan yatim yang berada pada asuhan walinya, lalu walinya itu tertarik dengan kecantikan dan hartanya dan berhasrat untuk mengawininya namun memberikan haknya lebih rendah dari yang biasa diberikan kepada istri-istrinya sebelumnya maka mereka dilarang menikahinya kecuali bila mereka dapat berlaku adil kepada mereka, dan mereka diperintahkan untuk menikahi wanita-wanita lain selain mereka". 'Aisyah berkata: "Kemudian orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam setelah itu, maka Allah 'azza wajalla menurunkan firman-Nya QS an-Nisaa' ayat 126 yang artinya (dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah; Allah akan memberikan fatwa kepada kalian tentang mereka..) 'Aisyah berkata: "Maka Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa seorang anak yatim perempuan jika memiliki kecantikan dan harta lalu walinya berhasrat menikahinya namun tidak memberikan haknya dengan melengkapi mahar sebagaimana semestinya. Namun bila anak yatim perempuan itu tidak memiliki harta dan kecantikan mereka meninggalkannya dan mencari wanita selain mereka". Beliau bersabda: "Sebagaimana mereka tidak menyukainya disebabkan sedikit hartanya dan tidak cantik lalu meninggalkannya maka mereka juga tidak boleh menikahinya saat tertarik kecuali bila mereka dapat berlaku adil kepadanya dengan menunaikan maharnya secara wajar serta memberikan hak-haknya

nasai:1404Sunan an-Nasa'iSahihSahih

Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] dan [Muhammad bin Basysyar] mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dia berkata; aku mendengar [Abu Ishaq] menceritakan dari [Abu 'Ubaidah] dari ['Abdullah] dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam. Abdullah berkata; "Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan Khutbah Hajah kepada kami, yaitu, 'Segala puji bagi Allah, kita memohon pertolongan dan ampunan kepadanya, berlindung kepadanya dari kejahatan jiwa kami dan kejelekan perbuatan-perbuatan kami. Barang siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang telah Allah sesatkan, maka tidak akan ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi tiada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya'. Kemudian beliau membaca tiga ayat berikut ini: 'Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadanya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam'. (Qs. Ali 'Imran (3): 102). 'Hai kalian manusia, bertakwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak, dan bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu dengan yang lain, dan (periharalah) hubungan Silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu'."(Qs. An-Nisaa'(4): 1). 'Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar'."(Qs. Al Ahzaab (33): 70). Abu Abdurrahman berkata; Abu Ubaidah tidak pernah mendengar dari Bapaknya sedikitpun, demikian juga Abdurrahman bin Abdullah bin Mas'ud dan Abdul Jabbar bin Wa'il bin Hujr

bukhari:2694Sahih al-Bukhari

Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'ad] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Hisyam bin 'Urwah] dari [bapaknya] dari ['Aisyah radliallahu 'anha] bahwa ayat yang berbunyi: QS An-Nisaa: 128): ("Apabila seorang isteri takut suaminya akan berbuat nusyuz (tidak mau menggaulinya) atau berlaku kasar terhadapnya"), dia ('Aisyah radliallahu 'anha) berkata: "Itu adalah seorang suami yang melihat pada isterinya apa-apa yang tidak menyenangkannya berupa pelanggaran dosa besar atau lainnya lalu dia berniat menceraikan isterinya lalu isterinya itu berkata: "Pertahankanlah aku dan bersumpahlah kepadaku terserah apa saja yang kamu kehendaki". 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Maka tidak berdosa bila keduanya saling ridho

bukhari:2494Sahih al-Bukhari

Telah menceritakan kepada kami ['Abdul 'Aziz bin 'Abdullah Al 'Amiriy Al Uwaisiy] telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Sa'ad] dari [Shalih] dari [Ibnu Syihab] telah menceritakan kepadaku ['Urwah] bahwa dia bertanya kepada ['Aisyah radliallahu 'anha]. Dan [Al Laits] berkata, telah menceritakan kepadaku [Yunus] dari [Ibnu Syihab] be telah menceritakan kapadaku ['Urwah bin Az Zubair] bahwa dia bertanya kepada ['Aisyah radliallahu 'anha] tentang firman Allah yang artinya: ("Jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil …. seterusnya hingga …empat-empat". (QS. An-Nisaa ayat 3), maka ia menjawab: "Wahai anak saudariku, yang dimaksud ayat itu adalah seorang anak perempuan yatim yang berada pada asuhan walinya, hartanya ada pada walinya, dan walinya ingin memiliki harta itu dan menikahinya namun ia tidak bisa berbuat adil dalam memberikan maharnya, yaitu memberi seperti ia memberikan untuk yang lainnya, maka mereka dilarang untuk menikahinya kecuali jika mereka bisa berbuat adil pada mereka, dan mereka memberikan mahar terbaik kepadanya, mereka diperintahkan untuk menikahi wanita-wanita yang baik untuk mereka selain anak-anak yatim itu". 'Urwah berkata, lalu 'Aisyah berkata, kemudian orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam setelah turunnya ayat ini; wayastaftuunaka finnisaa' (dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang para wanita) hingga firmanNya; watarghobuuna antankihuuhunna (dan kalian ingin menikahi mereka) dan yang disebutkan Allah pada firmanNya bahwa; yutla 'alaikum fil kitab (telah disebutkan untuk kalian di dalam Al Quran) ayat pertama yang Allah berfirman didalamnya ada kalimat; wa in khiftum allaa tuqsituu fil yataamaa fankihuu maa thaoba lakum minan nisaa' (jika kalian tidak bisa berbuat adil kepada anak-anak yatim, maka nikahilah wanita-wanita yang baik untuk kalian), 'Aisyah berkata, dan firman Allah pada ayat yang lain; watarghobuuna an tankihuuhunna (dan kalian ingin untuk menikahi mereka) yaitu keinginan kalian untuk menikahi anak perempuan yatim yang kalian asuh ketika ia sedikit hartanya dan kurang menarik wajahya, maka mereka dilarang untuk menikahi mereka karena semata hartanya dan kecantikannya dari anak-anak perempuan yatim kecuali dengan adil disebabkan ketidak tertarikan mereka kepada perempuan yatim itu